Kamis, 22 November 2012

Pengertian Pasar Efisien serta Bentuk Pasar Efisien (BI-01-SS-12)



Telah banyak orang yang melakukan penilitian dan mencoba merumuskan konsep pasar efisien. Dalam perkembangannya, definisi pasar efisien didasarkan pada beberaa variabel yang berbeda-beda. Variabel itu antara lain: nilai instrinsik sekuritas, akurasi harga sekuritas (Fama), distirbusi informasinya (Beaver), dan proses dinamik (Jones).
Pasar dikatakan efisien jika harga-harga sekuritas tidak terlalu jauh menyimpang dari nilai instrinsiknya. Nilai instrinsik dalam hal ini dikaitkan dengan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan penerbit saham. Fama mendefinisikan pasar efisien sebagai suatu pasar sekuritas yang harga-harga sekuritasnya mencerminkan secara penuh informasi yang tersedia. Sedangkan berdasarkan dsitribusi informasi, Beaver mengatakan pasar efisien jika harga-harga sekuritas bertindak mengamati sistem informasi yang ada. Berbeda dengan pendifinsian Fama, disini, Beaver mengasumsikan bahwa bisa saja investor mempunyai ekspektasi yang berbeda terhadap informasi yang ada. Jones mendefinisikannya sebagai pasar yang harga-harganya secara cepat dan penuh mencerminkan informasi yang tersedia terhadap aktiva tersebut. Kecepatan yang dimaksud disini adalah  kecepatan dalam menyesuaikan ke harga equilibrium baru ketika ada informasi baru yang dimasukkan ke pasar. Misalnya saja ada informasi kenaikan laba yang dianggap sebagai kabar baik. Investor akan bereaksi dengan cepat setelah menerima informasi ini. Ini berarti pasar bereaksi cepat dan akan terbentuk harga baru yang merefleksikan informasi tersebut.
Pasar efisien sendiri memiliki 3 bentuk yaitu bentuk lemah, setengah kuat, dan kuat. Pasar efisien dikatakan berbentuk lemah jika harga-harga sekuritas mencerminkan secara penuh informasi masa lalu atau informasi yang sudah terjadi. Pasar berbentuk setengah kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan, termasuk pula informasi dalam laporan keuangan perusahaan emiten. Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan semua informasi yang tersedia termasuk infromasi privat. Informasi privat disini adalah informasi yang pada dsarnya hanya diketahui oleh emiten saja.
Dari berbagai penjelasan diatas, dapat dirunut bahwa pasar efisien disini terkait dengan perataan penyebaran informasi di pasar. Adanya ketidaksamaan informasi diantara pelaku pasar dapat menimbulkan inefisiensi pasar. Dengan demikian, terlihat jelas bahwa usaha pembentukan pasar efisien sejalan dengan penciptaan stabilitas sistem keuangan.
dengan penciptaan stabilitas sistem keuangan.

Senin, 12 November 2012

Green Economy (BI-01-SS-12)


Program Lingkungan PBB (UNEP; United Nations Environment Programme) dalam laporannya berjudul Towards Green Economy menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam.
Dari definisi yang diberikan UNEP, pengertian ekonomi hijau dalam kalimat sederhana dapat diartikan sebagai perekonomian yang rendah karbon (tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan), hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial.
Kemudian apa bedanya ekonomi hijau (green economy) dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development)?. Konsep ekonomi hijau melengkapi konsep pembangunan berkelanjutan. Sebagaimana diketahui prinsip utama dari pembangunan berkelanjutan adalah “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekonomi hijau merupakan motor utama pembangunan berkelanjutan.

Ekonomi Hijau Tema Hari Lingkungan Hidup 2012. UNEP menetapkan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2012 adalah Green Economy: Does it include you?”. Dalam konteks Indonesia, tema tersebut diadaptasi sebagai Tema Hari Lingkungan Hidup Indonesia 2012 menjadi “Ekonomi Hijau: Ubah perilaku, tingkatkan kualitas lingkungan”.
Dari sini terlihat pentingnya perubahan paradigma dan perilaku untuk selalu mengambil setiap kesempatan dalam mencari informasi, belajar dan melakukan tindakan demi melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Dengan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pola hidup masyarakat modern telah membuat pembangunan sangat eksploitatif terhadap sumber daya alam dan mengancam kehidupan. Pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan produksi terbukti membuahkan perbaikan ekonomi, tetapi gagal di bidang sosial dan lingkungan. Sebut saja, meningkatnya emisi gas rumah kaca, berkurangnya areal hutan serta musnahnya berbagai spesies dan keanekaragaman hayati. Di samping itu adalah ketimpangan rata-rata pendapatan penduduk negara kaya dengan negara miskin.
Konsep ekonomi hijau diharapkan menjadi jalan keluar. Menjadi jembatan antara pertumbuhan pembangunan, keadilan sosial serta ramah lingkungan dan hemat sumber daya alam. Tentunya konsep ekonomi hijau baru akan membuahkan hasil jika kita mau mengubah perilaku.
Referensi:
  • www.unep.org/wed/greeneconomy
  • Sambutan Menteri Lingkungan Hidup Kepada Pemimpin Daerah Dalam Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2012

.

Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) (BI-01-SS-12)


Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) adalah seperangkat standar akuntansi, yang dikembangkan oleh Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang menjadi standar global untuk penyusunan laporan keuangan perusahaan publik.

India adalah salah satu dari 100 negara lebih yang telah atau sedang bergerak menuju IFRS (International Financial Reporting Standar) konvergensi dengan maksud untuk mewujudkan keseragaman dalam sistem pelaporan secara global, memungkinkan bisnis, keuangan dan dana untuk mengakses lebih banyak kesempatan.

ICAI telah memutuskan untuk menerapkan IFRS di India. Departemen Corporate Affairs juga telah mengumumkan komitmennya untuk konvergensi ke IFRS.
IFRS
International Financial Reporting Standars atau yang lebih akrab didengar dengan istilah IFRS mungkin merupakan hal baru di bidang akuntansi yang mulai resmi diimplementasikan sejak awal tahun ini. Perkembangan IFRS di Indonesia juga berdampak terhadap peraturan perpajakan. Atas dasar hal ini Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Selatan bekerja sama dengan tax center Universitas Nasional menyelenggarakan Seminar Perpajakan dengan tema “Dampak Konvergensi IFRS ke Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Indonesia Terhadap Perpajakan”. Penyelenggaraan acara dilangsungkan di aula Universitas Nasional (12/07/2012) dengan mengundang dua orang narasumber yang cukup mumpuni di bidang masing-masing yaitu Dr. Dwi Martani selaku praktisi dan akademisi Universitas Indonesia dan Prof. Dr. John Hutagaol selaku Tenaga Pengkaji Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang diwakili oleh Saudara Yohan Suharsoyo.
Bagi Kanwil DJP Jakarta Selatan penyelenggaraan seminar merupakan salah satu wujud nyata bahwa Kanwil DJP Jakarta Selatan sangat mendukung adanya wadah dalam mengkaji berbagai ilmu pengetahuan baru demi kemajuan perpajakan.

Softskill yang dibutuhkan oleh seorang akuntan (BI-01-SS-12)


Untuk menjadi akuntan, saat ini tidak hanya diperlukan kemampuan teknis klerikal saja. Berkembangnya organisasi bisnis membutuhkan akuntan yang tidak hanya mempunyai kemampuan ‘hard-skills’ namun kemampuan ’soft-skills’ juga menjadi penting.

Dalam beberapa kasus yang pernah di ceritakan kepada saya, ada 3 lulusan jurusan akuntansi mendatangi suatu perusahaan, mereka sedang dalam proses rekrutmen pada sebuah perusahaan. Mereka masing-masing diharuskan presentasi tentang anggaran, modal kerja dan analisa arus kas. Duh, kasihan juga, karena mereka tidak tahu bagaimana membuat presentasi yang baik. Mulai dari membuat bahan slide powerpoint sampai membuat apa yang harus dipresentasikan.

Sebagai pengajar, ini juga kesalahan proses pendidikan yang kurang juga memberikan soft-skills di kelas (mungkin banyak dosen sendiri soft-skills nya juga kurang, mungkin termasuk saya sendiri hehehe).

Dari risetnya Intitute of Management Accountant memang sudah lama telah terjadi pergeseran bahwa akuntan sekarang ini nggak hanya duduk dibelakang meja saja, tetapi lebih kepada ‘business partner’ dan ‘internal consultant’ dan hal ini akan harus banyak mempunyai kemampuan soft-skills yang memadai.

Berikut ini ada 24 jenis soft-skills yang paling tidak harus dimiliki oleh seorang akuntan (Sasongko Budi 2007). Antara lain :

1. Oral/spoken communication skills: Both one-on-one and in groups (e.g., presentations)
2. Written communication skills: Both printed and online written work, including reports, letters and email.
3. Teamwork/collaboration skills: Working with others to accomplish tasks
4. Self-motivation/initiative: Doing things without needing to be told or persuaded
5. Work ethic/dependability: dependability: Being thorough and accurate so olleagues can count on you.
6. Critical thinking: Challenging things when appropriate and proposing alternatives to consider.
7. Risk-taking skil: Taking a considered chance on something new, different or unknown
8. Flexibility/adaptability: Going with the flow and adjusting with unforeseen circumstances.
9. Leadership skills: Guiding and supporting others in order to accomplish something.
10. Interpersonal skills: Relating with other people and communicating with them in everyday interactions.
11. Working under pressure: Handling the stress that accompanies deadlines and other limitations or constraints.
12. Questioning skills: Asking questions in order to learn or clarify something.
13. Creativity: Having the imagination to come up with new or off-the-beaten-path ideas.
14. Influencing skills: Persuading others to think about or adopt a different point of view.
15. Research skills: Gathering information in order to study or answer questions.
16. Organization skills: Being organized and methodical, especially in work-related situations.
17. Problem-solving skills: Analyzing the potential causes of a problem and coming up with a solution.
18. Multicultural skills: Understanding and relating to people who are different from you, perhaps by using a second language.
19. Computer skills: Using basic word-processing, spreadsheet and presentation software as well as the Internet.
20. Academic/learning skills: Learning new things quickly and thoroughly, and being willing to learn continuously.
21. Detail orientation: Making sure that even the little things are done and done correctly.
22. Quantitative skills: Compiling and using numbers to study an issue or answer a question.
23. Teaching/training skills: Showing other people how to do something in a way that allows them to learn quickly and thoroughly.
24. Time management skills: Using your time wisely and consistently staying on schedule and meeting deadlines.